Sejak pertengahan Desember, langit menutup rapat.
Seperti ada luka yang belum kering.
Hujan tak lagi tanya izin, dia datang, deras, lama, tanpa ampun.
Membasahi jalan, membasahi rindu, membasahi doa.
Aku berdiri disini, rambut menempel basah di leher, tapi bukan dingin yang menusuk, justru kepala yang penuh bayang.
Di utara kota, air naik perlahan, diam, seperti kematian yang tak mau buru-buru.
Pedagang kaki lima menarik gerobaknya ke atas trotoar, matanya bukan marah—hanya lelah.
Anak kecil, kakinya biru terkena air, tetap berjualan, senyumnya kecut.
Mereka tidak protes. Mereka, beradaptasi.
Makan hujan untuk makan. Tapi aku tahu, tiap senja mereka bertanya, besok ada yang laku tidak ya?
Sedang aku?
Menikmati derasnya hujan dalam balutan hangatnya selimut tebal di kamar.
Ketika dingin datang, tinggal menekan shower—air panas langsung bernyanyi di kulit.
Ada jurang disana. Celahnya tipis, tapi dalam.
Antara aku, kita yang aman, dan mereka..
Apakah rasa syukur yang kurang?
Tidak, aku, kamu, kita cuma manusia.
Selagi masih bisa berpikir dan merasa 'apa aku kurang bersyukur', artinya kamu justru sedang bersyukur.
Kamu orang yang sadar, yang berpikir, yang hatinya masih hidup.
Itu syukur, loh. Syukur yang dramatis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar