me,my life,my lovely

Jumat, 20 Februari 2026

Batara Nagatatmala

Batara Nagatatmala, putra yang gagah, anak Sanghyang Antaboga dan Dewi Supreti.

Tubuhnya manusia, namun sisik halus samar-samar terasa di bawah kulit ketika amarah membara..

Matanya dalam seperti telaga yang menyimpan rahasia seribu tahun..

Kulitnya kecokelatan seperti tanah subur setelah hujan..

Rambutnya hitam legam, bergoyang seperti riak air..

Ia tak membawa mahkota emas atau kalung permata.. 

Darah naga mengalir dalam urat-urat ksatrianya, darah Sanghyang Antaboga dan Dewi Supreti..

Kekuatannya bukan api yang membakar hangus, melainkan air yang menyelimuti dan menenangkan..

Air yang mampu menyembuhkan luka tak terlihat..

Ia mampu menahan badai tanpa harus menghancurkannya..

Ia adalah ksatria yang tak pernah haus darah..

Ia haus keseimbangan, haus keadilan yang tak memihak..

Haus dunia yang tetap utuh meski penuh retak..

Kehadirannya adalah pengingat bahwa kekuatan sejati tak harus selalu tampak ganas atau megah..

Terkadang cukup diam, tenang, tapi selalu ada..

Selalu menjaga garis suci yang menghubungkan dunia atas dan dunia bawah..

Ia ada disana, antara manusia dan naga..

Antara cahaya dan kegelapan..

Antara yang fana dan yang abadi..

Selasa, 10 Februari 2026

Dewi Nagagini

Dari perpaduan suci Sanghyang Antaboga dan Dewi Supreti, lahir lah Dewi Nagagini dan Batara Nagatatmala..

Dewi Nagagini adalah putri naga yang tubuhnya melingkar lembut, bukan untuk menyerang, melainkan untuk melindungi dan menyatukan..

Sisiknya berkilau seperti mutiara yang terendam lama di dasar sungai suci..

Mahkotanya sederhana namun agung..

Baju hijaunya menyatu dengan warna daun teh yang baru bertunas..

Kalung emasnya bergetar pelan seperti getar akar yang menembus tanah subur..

Ia tak membawa racun di taringnya..

Ia membawa tirta yang menenangkan, air kehidupan yang mampu menyembuhkan luka yang tak terlihat..

Dari ayahnya, Sanghyang Antaboga dan ibunya Dewi Supreti, ia mewarisi kekuatan diam yang penuh makna..

Kesabarannya yang menyangga dunia dan kelembutannya yang tak goyah meski badai mengamuk di atas kepalanya..

Dalam wujud manusia, ia seorang perempuan cantik jelita..

Kulitnya seperti sutra yang disentuh embun pagi..

Matanya dalam seperti danau yang menyimpan rahasia seribu tahun..

Senyumnya lembut seperti hembusan angin yang membawa aroma bunga kantil..

Namun di balik keindahan itu, kekuatan naganya tetap ada..

Ia mampu berubah menjadi ular raksasa ketika keseimbangan terancam..

Sisiknya mengeras seperti batu gunung..

Napasnya menjadi kabut yang menyelimuti musuh dalam ketenangan abadi..

Namun amarahnya selalu lahir dari kasih sayang..

Bukan dendam, bukan kebencian, melainkan keinginan agar dunia tetap harmonis..

Dia lah istri Bratasena, ksatria gagah dari dunia atas..

Pernikahannya bukan sekadar ikatan darah dan daging..

Ia menjadi pertemuan dua alam, alam bawah yang gelap dan abadi bertemu dengan alam atas yang terang dan fana..

Dia adalah jembatan hidup antara kegelapan bawah tanah dan cahaya atas..

Dewi Nagagini tak pernah menuntut tahta atau puji-pujian..

Di sisi suaminya, ia menjadi penyeimbang ketika amarah Bratasena membara..

Menjadi pelindung ketika dunia manusia lupa keseimbangan..

Agar anaknya, Antareja, ksatria jangkarbumi yang tubuhnya setengah manusia setengah naga, tumbuh dalam keseimbangan yang ia jaga..

Dewi Nagagini adalah simbol peralihan yang indah..

Dari kegelapan menuju cahaya, dari kedalaman menuju permukaan, dari naga ke manusia, dari penjaga bawah tanah ke ibu yang melindungi keturunan di dunia atas..

Ia tak pernah berat sebelah..

Ia menyatukan keduanya dalam dirinya sendiri..

Dia lah pengingat, bahwa kekuatan sejati tak selalu tampak ganas atau megah..

Terkadang cukup dengan lembut..

Terkadang cukup dengan diam..

Akan tetapi selalu ada, selalu menjaga, selamanya menyatukan..


Jumat, 06 Februari 2026

Dewi Supreti

Dewi Supreti adalah nama yang disandingkan dengan Sanghyang Antaboga..

Wujudnya naga, sama seperti pasangannya..

Naga perempuan yang melingkar, selaras dengan tubuh suaminya..

Dewi Supreti tak pernah berdiri di belakang, ia berdiri di sisi..

Bukan istri yang mengikuti, melainkan pasangan yang menyatu..

Ia bukan pelengkap, ia adalah pasangan yang menyempurnakan keseimbangan..

Ketika Antaboga menyangga Bedawang Nala dari bawah, Supreti menjaga agar kekuatan itu tak goyah..

Agar tirta amerta tetap mengalir..

Agar siklus hidup dan mati tetap berputar dalam harmoni gelap..

Ia tetap ada di sana, dalam kegelapan yang penuh rahasia bersama Antaboga..

Tanpa kata..

Tanpa gerak yang mencolok..

Hanya kehadiran yang abadi..

Dewi Supreti adalah simbol kesetaraan dalam kedalaman..


Selasa, 03 Februari 2026

Sanghyang Antaboga

Di Saptapralata, tujuh lapis tanah yang gelap dan lembab, Sanghyang Antaboga meringkuk, tubuhnya melingkar seperti akar raksasa yang menembus lapisan demi lapisan, mengikat Bedawang Nala, penyu dunia, agar jagat tak jatuh ke kehampaan.

Sanghyang Antaboga ialah naga yang tak perlu terbang ke langit..

Namun ia bukan sekadar naga yang menggeliat di kegelapan.

Ia menyangga lapisan-lapisan bumi dalam diam yang tak tergoyahkan.

Setiap hembus napasnya menggetarkan akar-akar gunung..

Setiap kelopak sisiknya menyimpan getar yang membuat bumi tetap tegak, seperti doa tanpa suara yang tak pernah putus..

Mahkotanya memahkotai kepala yang tenang..

Badhong rambutnya bergoyang pelan seperti angin bawah tanah..

Baju merahnya menyala samar di kegelapan abadi..

Kalung emasnya berkilau seperti urat nadi bumi itu sendiri.

Ia bukan makhluk yang membara api atau menyembur racun..

Ia adalah penjaga yang bijaksana, penguasa alam bawah yang menyimpan Tirta Amerta, air suci kehidupan..

Dalam keheningannya, ia menjaga agar siklus tetap berputar: mati yang kembali hidup, hidup yang kembali ke tanah..

Antaboga tak pernah marah tanpa alasan..

Akan tetapi marahnya selalu lahir dari keadilan, melindungi yang lemah dan menghukum yang melanggar keseimbangan..

Kekuatannya tak terlihat tapi tak tergoyahkan..

Dalam gelap yang penuh rahasia..

Dalam kedalaman yang tak pernah disentuh cahaya..

Ia tetap hidup, tetap menjaga, seperti napas dunia yang tak pernah berhenti..

Di bawah tanah Nusantara, ia tetap ada..

Dia lah simbol kesabaran abadi..