Di Saptapralata, tujuh lapis tanah yang gelap dan lembab, Sanghyang Antaboga meringkuk, tubuhnya melingkar seperti akar raksasa yang menembus lapisan demi lapisan, mengikat Bedawang Nala, penyu dunia, agar jagat tak jatuh ke kehampaan.
Sanghyang Antaboga ialah naga yang tak perlu terbang ke langit..
Namun ia bukan sekadar naga yang menggeliat di kegelapan.
Ia menyangga lapisan-lapisan bumi dalam diam yang tak tergoyahkan.
Setiap hembus napasnya menggetarkan akar-akar gunung..
Setiap kelopak sisiknya menyimpan getar yang membuat bumi tetap tegak, seperti doa tanpa suara yang tak pernah putus..
Mahkotanya memahkotai kepala yang tenang..
Badhong rambutnya bergoyang pelan seperti angin bawah tanah..
Baju merahnya menyala samar di kegelapan abadi..
Kalung emasnya berkilau seperti urat nadi bumi itu sendiri.
Ia bukan makhluk yang membara api atau menyembur racun..
Ia adalah penjaga yang bijaksana, penguasa alam bawah yang menyimpan Tirta Amerta, air suci kehidupan..
Dalam keheningannya, ia menjaga agar siklus tetap berputar: mati yang kembali hidup, hidup yang kembali ke tanah..
Antaboga tak pernah marah tanpa alasan..
Akan tetapi marahnya selalu lahir dari keadilan, melindungi yang lemah dan menghukum yang melanggar keseimbangan..
Kekuatannya tak terlihat tapi tak tergoyahkan..
Dalam gelap yang penuh rahasia..
Dalam kedalaman yang tak pernah disentuh cahaya..
Ia tetap hidup, tetap menjaga, seperti napas dunia yang tak pernah berhenti..
Di bawah tanah Nusantara, ia tetap ada..
Dia lah simbol kesabaran abadi..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar